Tuesday, February 10, 2009

Seperti apa jingga yang kemudian berubah wujud menjadi kelabu.

Menanti… apakah akan terjadi perlahan jingga ini menjadi kelabu, atau kelabu akan datang seketika menampar muka. Jika itu yang terjadi maka hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi.

Seperti terjebak dalam lingkaran yang menjebak, hanya menghangatkan jiwa2 yang meminta kehangatan, yang MEMINTA…tidak datang begitu saja, tanpa ada apapun.

Saat smua merunut pada 2 parameter…logika dan rasa…seketika warna tak hanya merah, jingga dan biru

Monday, February 20, 2006

Semburat Kisah Sejuta Mawar

Sunday, January 23, 2005

“Untukmu yang begitu beruntung”

Lihatlah aku terkapar begitu saja
Larut dalam detik demi detik waktu, begitu saja

Kuhirup udara yang kau hirup
Kumakan apa yang kau makan

Ku ada karna kau ada, seperti itukah ?
Kuberdiri ditanah tempat kau berdiri
Dan aku sepertimu…mencintainya.

Raih aku dengan setes keringatmu
Peluk aku dengan senyummu
Hangatkan aku dengan kepedulianmu

Beruntung kau bisa menikmati senja
Senja yang itu-itu saja

Hangatmu belum tentu hangatku
Hangatku hanya sepercik hangatmu

Andai kau mau berbagi
Hanya sebutir air di lautan kepedulianmu

Mungkin aku akan menambal sedikit
Selimut hangatmu

Mungkin aku akan mempercantik
Senjamu, duniamu, dan hidupmu

Aku yang terdiam menanti kau mengulurkan
Mengulurkan tangan dengan membuka wacana berpikirku

Lukisan

Lukisan

Mencoba berdiri dikakinya sendiri untuk setiap apa yang dia lakukan dan selalu membiarkan segalanya mengalir begitu saja.
Dia tidak bisa dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan, walaupun terkadang keberuntungan menemaninya tuk beberapa saat.

“Aku tahu aku tak dapat begitu mudah mendapatkan segala sesuatu, tapi aku tak akan menyesalinya”
Adakah senja kan berubah menjadi pagi kembali.

Dia selalu bercerita bahwa dia mendapatkan segala sesuatunya begitu sulit, dia layak mendapatkan lebih, tapi apa yang terjadi.
Dengan membiarkan hidup mengalir, hanya saja alam saat ini begitu tak ramah menjamah, entah berjuta apa yang telah menghampirinya hingga dia bisa seperti saat ini.
Dalam sekejap impian telah mendekatinya dari berjuta arah, jelas, secerah siang yang cerah.

***

Dengan nada lirih dia bercerita, saat itu aku berada dalam ruang, ruang yang aku sendiri tak mengerti bentuknya, tapi ruangan itu begitu kukenal.
Aku mencoba untuk mengamati setiap bentuk dari ruang yang aku lihat saat itu, sebuah lemari dengan rak yang tersusun rapi, dan sebuah vas bunga cantik menghiasinya.
Sebuah piano tua yang tertata begitu apik dan serasi dengan ruangan yang begitu tak asing bagiku. Disisi lain terlihat sofa dengan susunan bantal yang nampak begitu nyaman.
Aku tak mengerti seakan tangan ini terus memaksa untuk menyentuh setiap apa yang aku lihat, tapi tubuh ini seakan menolak seluruh keinganku.
Lama aku berdiri disana, hanya saja segalanya begitu tak asing, sepatu nike keluaran baru, tas rip curl, celana billabong gombrang model baru, dan sebuah mobil-mobilan tergeletak begitu saja diatas meja.
Harum ini, suasana ini, begitu menenangkan dan perlahan kuamati setiap bagian dari ruangan ini seakan mata ini tak terasa lelah.
Seketika saja ada sesuatu yang janggal melintas didepan mataku, sebuah lukisan yang menempel didinding.Aku hanya bisa terdiam, seluruh badanku masih terasa kaku, dan seketika saja bergetar, keringat mulai menetes perlahan dari dahi sampai terasa perih mata ini.
Entah berjuta kekuatan apa yang memaksa kepalaku untuk tak bergerak sedikitpun, walau aku berusaha untuk tak melihat lukisan itu, bahkan mata ini tak mau tertutup. Perlahan Air hangat mengalir keluar dari mata ini, air mata yang bercampur dengan keringat seakan telah mengeluarkan segala yang ada dalam benakku, aku tak bisa menahannya lagi, kemudian segalanya begitu terang, begitu menyilaukan.
Tak berapa lama semua menjadi gelap begitu saja, hanya terdengar suara dikejauhan.
“Bagaimana ini ?, siapa yang akan membayar, anda bukan keluarganya ?”, terdengar jawaban “Bukan…”, terdengar suara lirih kembali “Baiklah biar saya menanggung semuanya”

***

Sore itu dipelataran parkir yang nampak jejal oleh pejalan kaki dan deru kendaraan, sehingga udara terasa begitu sesak, setiap orang memperebutkan oksigen karena dikota ini, penghasil oksigen sudah tak dibiarkan tumbuh, terseret oleh gedung-gedung.
Seorang anak berlari begitu cepat menggenggam sebuah mobil-mobilan, tak beralas kaki dengan pakaian yang lusuh, dikejar oleh beberapa orang berseragam (satpam sebuah mall).
“Hei…maling kecil…sini kamu, jangan lari…!!”!. Orang-orang nampak tak begitu terpengaruh, mereka terlalu sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.
Seketika terdengar bunyi kendaraan mendecit, yang diiringi jeritan seorang ibu diseberang jalan. Seorang anak menggelepar disisi jalan bersimbah darah, menggenggam sebuah mobil-mobilan.

***

Perlahan ku buka mataku, terlihat asing setiap jengkal ruangan ini, semua serba putih, dan beberapa selang kecil menempel ditubuhku dan tubuhk ku terasa begitu nyeri.
“Ah… sudah bangun rupanya, selamat pagi nak, jangan takut…., kamu aman sekarang”.

***

Kami pun larut dalam percakapan, “Lalu apa yang kau lihat dilukisan itu nak ?, apa….?”
Kemudian dia melanjutkan ceritanya, “Aku melihat empat gambar disitu, gambarku, satu orang memakai jas, satu lagi memakai kebaya dan yang satu lagi berseragam satpam nampak rapi, tapi dua orang dari mereka wajahnya tak kukenali”.

“Yang mana ?”.

-2001-

Thursday, July 01, 2004

Percakapan ilalang

Ilalang begitu bahagia
Tak akan pernah bahagia

Tentu bahagia dalam buaian
Buaian memang begitu indah

Mengapa ilalang ?
Karna ilalang adalah aku

Kau tak seperti ilalang ?
Berbaju berhati maka jadilah aku

Malukah kau dengan ilalang
Ilalang hanya dapat mengganggu

Syahdu kau ikat aku
Tapi ilalang begitu memaksa

Ilalang tak berdaun hanya berhati
Ilalang tak bisa mengerti hati

Untuk apa ilalang berhati ?
Untuk menyentuh mu … sekedar saja


01-07-04
01.36

Wednesday, June 16, 2004

saat-saat kritis

Biarkan duri, tetap dalam dagingku
Biarkan luka ini menganga
Biarkan perih ini menyelimuti

Semakin terasa, semakin bergetar
Semakin perih, semakin ada

Bungaku hilang menjelma buih
Buih kotor sisa perzinahan

Oh…dunia betapa kau mempesona
Betapa kau indah semerbak bunga

16-06-2004
00.00

Saturday, August 23, 2003

Seketika senja berubah menjadi biru pucat

Seketika senja berubah menjadi biru pucat, aku terhimpit diantara karang yang perlahan menghentikanku bernafas.
Sudah terlalu lama aku terdiam, sementara semua berlari, aku terdiam bukan karena aku bisu dan tolol, tapi aku hanya mencoba mengamati jalan untukku berlari. “oh……malam jangan biarkan aku tenggelam……..”

“pergi kau dari sini !!!, dasar makhluk durhaka”
“baik aku akan pergi, mungkin ini memang sudah waktuku untuk pergi, yah akupun sudah terlalu muak dengan kau dan duniamu “.
“dasar kau makhluk yang tak berguna, kerjamu hanya meratapi nasib yang belum tentu kebenarannya”.
“sudah puas……sudah puas kau mencaci-maki aku, sementara kau tak sedikitpun membantu, kau hanya berpura-pura mengasihaniku, aku tau, aku hanya ornament tak penting untukmu, aku tau itu dan aku tak peduli sedikitpun, aku bisa sepertimu, tapi aku tak akan pernah mau “.

Masih diujung penantian aku menunggu entah berapa lama jiwa ini bersemayam, karna telah terlalu lama aku tak mengenal diriku.
Setelah segala rupa kekecewaan, kenestapaan, kefrustasian, kerja keras, perjuangan, aku telah lewati semua, namun aku terjebak yah terjebak, mungkin bukan salah mereka, ini semata mungkin salahku.
Tak akan ada yang mau menjalani hidup sepertiku, tak akan pernah ada seorang lelaki kecil pun tak akan terpikir bercita-cita menjadi seperti ku
Aku tak butuh rasa ibamu, walaupun jika kau tak iba padaku, mungkin aku telah berada di lain dunia yang siap menghantuimu.

“dasar makhluk tak berguna, sudah merepotkan……eh……malah berani maki-maki, jika ku tak kasih makan dari dulu mungkin kau sudah mati”.
“baik……baik…..aku pergi tapi satu syarat , aku ingin kau mati karna menjadi diriku……yah diriku………..

seorang lelaki duduk terdiam ditepian dermaga menanti senja berubah menjadi malam

23-08-03
01.13

Sunday, February 02, 2003

hanya efek dari kalian

Ketika mereka berjalan bersama dan ber-iringan
Mereka getarkan seluruh dunia, sementara...

Berjuta kepala, berjuta pikiran memenuhi sesak seluruh ruang
Tak tersisa tempat kosong sedikitpun

Dudukku diantara berjuta kesibukan
Terdiam seperti batu yang hanya menanti tumbangnya waktu

Duduk memandangi dua insane yang penuh dengan aura kasih dan sayang
Duduk sendiri terdiam dan menikmati dengan segenap hati

Mereka tersenyum peuh cinta, asmara, bertaburkan bunga
Ditengah hangatnya senja

Bergetar terpaku seluruh jiwa dan hatiku
Melihat mereka terus bersama
Menyanyikan lagu yang sama
Berkata-kata penuh kasih mesra

Terasa tak ada cela
Hilang semua kepahitan,perseteruan,pertikaian
Semua kejahatan

Aku terbawa, terhanyut, tenggelam dalam suasana yang amat sangat menyentuh
Nikmat………………………

Saat inipun aku sudah merasakan cinta………yah………cinta

02-02-03
17.44